Jumat, 18 April 2014

Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif.
Habib Syarief Muhammad Al-AydarusNamanya biasa ditulis “K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus”. Tak banyak habib yang juga dipanggil kiai atau ditulis “K.H.” di depan namanya. Tokoh habaib Kota Kembang, tokoh NU Jawa Barat, pendidik, pence­ramah, dan ketua umum Yayasan As­salaam, ini termasuk dalam kelompok yang tak banyak itu. Ayahnya, yang telah berpulang 7 Maret 1985 yang lalu, juga demikian, sering ditulis namanya dengan “K.H.”, yakni K.H. Habib Utsman Al-Aydarus. Beliau ini tokoh terkemuka di Bandung di masanya.
Habib Syarief Muhammad memang seorang kiai, baik dilihat dari ilmunya, wawasannya, penampilannya, pemba­waannya, pergaulannya, sikapnya, mau­pun pendiriannya. Bahkan sosoknya lebih menggambarkan sosok seorang kiai pribumi daripada sosok seorang habib sebagaimana dalam bayangan kebanyakan orang.
Meskipun demikian, identitas dan jiwa kehabibannya sama sekali tak hilang, bahkan berkurang pun tidak. Baik dari nama­nya, keyakinannya, amaliah­nya, kecenderungannya, pergaulannya, per­juangannya, maupun keistiqamah­an­nya.
Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif. Ini bukan singkatan yang dibuat-buat dan dicocok-cocokkan dengannya. Orang yang mengenalnya cukup dekat, insya Allah, akan sependapat bahwa masing-masing kata itu memang terlihat dalam dirinya.
Kreativitasnya dapat dilihat dari apa yang dilakukannya sejak kecil, remaja, dan terus hingga kini.
Ia pun seorang yang inovatif. Lang­kah-langkah yang ditempuhnya dan terobosan-terobosan yang dilakukannya dalam mengembangkan Yayasan As­salaam jelas-jelas menunjukkan hal itu. Jangan heran jika Assalaam dengan berbagai lembaga pendidikannya, serta berbagai unit kegiatan lainnya, terus berkembang pesat dan kini menjadi sa­lah satu yayasan Islam yang sangat di­kenal di Bandung dan diakui memiliki kualitas yang baik.
Kemudian, berbagai peran dan ama­nah yang diembannya sejak di bangku kuliah, bahkan sejak remaja, sampai kini, merupakan bukti nyata aktivitasnya yang lama. Sedangkan pergaulannya yang luas dan kedekatannya dengan berbagai kalangan jelas menunjukkan inklusi­vitas­nya. Jadi memang ia seorang KIAI.
Tetap tak Lupa Mengajar
Habib Syarief Muhammad lahir di Ban­dung tanggal 5 November 1954, put­ra pasangan Habib Utsman bin Husein Al-Aydarus dan Hj. Aisyah binti Djali Radjoe Soetan. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Adik-adiknya adalah Syarifah Hamidah, Syarif Ahmad, Syarif Hamid, dan Syarifah Mahmudah. Selain itu, Habib Syarief juga memiliki dua ka­kak perempuan lain ibu, yakni Syarifah Fathimah dan Syarifah Maimunah.
Sosok yang ramah, mudah akrab, dan tak suka menonjolkan diri ini memu­lai pendidikan formalnya di lembaga pendidikan yang dirintis ayahandanya sendiri, Assalaam. Jenjang TK dan SD diselesaikannya di sini. Kemudian ia melanjutkan ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) enam tahun di Bandung, tahun 1968-1973.
Setelah menuntaskan pendidikan­nya di PGAN, akhir tahun 1973, Habib Syarief melangkahkan kaki ke Yogya­karta di awal tahun  1974. Di sini ia  me­lanjutkan pendidikannya di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, yang dapat diselesaikan tahun 1980, sambil mondok di Pesantren Krapyak, asuhan tokoh NU terkemuka, K.H. Ali Maksum.
Saat kanak-kanak dan remaja, di samping mengaji kepada ayahandanya sendiri, ia juga mengaji kepada para kiai di Bandung meskipun tidak menetap di pesantren mereka. Di antaranya mengaji ilmu falak kepada Ajengan Burhan, pengasuh Pesantren Cijaura.
Sejak kecil telah tumbuh kecintaan­nya terhadap ilmu dan buku. Salah satu yang memotivasinya, ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya selalu muthalaah kitab setiap hari sekitar enam jam, setiap ba‘da zhuhur, ba‘da isya, dan pagi hari. Padahal, beliau setiap dua hari mengkhatamkan Al-Qur’an. Belum lagi waktunya untuk membaca shalawat. Apa yang dilakukan sang ayah itu me­motivasinya untuk gemar membaca.
Di masa kanak-kanak, setiap hari Jum’at, ia ikut pengajian kitab Minhajul Abidin dan Ihya Ulumiddin, yang diasuh ayahandanya. Juga pengajian kitab Al-Hikam di hari Sabtu. Khusus untuk ilmu-ilmu alat, sang ayah menyuruhnya untuk belajar kepada kakak sepupunya, ke­ponakan sang ayah sendiri, Habib Ahmad bin Hasyim Al-Aydarus. Namun tidak sampai tuntas, karena ia keburu pindah ke Yogya.
Ia memilih kuliah di IAIN Yogya ka­rena sejak di PGA telah banyak mem­baca buku-buku yang ditulis oleh para guru besar IAIN Yogya. Di antaranya buku-buku karya Prof. Hasbi Ash-Shiddiqi, Prof. Mukhtar Yahya, Dr. K.H. M. Tholhah Mansoer, Prof. Mukti Ali, Prof. Zaini Dahlan. Ada sekitar 15 pe­nulis yang bukunya sering ia baca dan sebagian besar mereka adalah guru be­sar dan dosen-dosen senior di sana.
Ketika pertama kali datang di Yogya, ia tinggal di kediaman Dr. K.H. Tholhah Mansur. Kemudian atas saran beberapa orang, termasuk K.H. Anwar Musaddad, ia masuk Pesantren Krapyak sambil kuliah di IAIN Yogya.

Sekitar 500 sepeda motor dan mobil berkonvoi turun dari daerah Batu menuju kota Malang pada malam Jum’at Legi, 11 Juni. Penumpang yang kebanyakan para pemuda, memakai baju koko putih, peci putih, dan berjaket hitam. Mereka membawa bendera kebesaran bertuliskan Sholawat di Bumi Arema. Ada juga yang bertuliskan Arema Bersholawat. Ada pula Majelis Shalawat Ar-Ridwan. Iring iringan itu berjalan dengan tertib dalam jarak 20 km yang ditempuh sekitar 40 menit menuju Masjid al-Huda di kota Malang.

Al Habib Jamal Bin Thoha Baagil
Seorang habib muda bersorban putih turun dari mobil dan melangkah masuk ke halaman masjid. Itulah Habib Achmad Jamal bin Thoha Ba’agil, sang pemimpin sekaligus pemrakarsa gerakan Sholawat di Bumi Arema setiap malam Senin Legi ba’da sholat Isya’. Beberapa waktu kemudian, Habib Jamal Ba’agil, begitu alumnus Darul Mushthafa Tarim ini sering disapa, memimpin sholawat Adh-Dhiya’ullami’, gubahan gurunya, Habib Umar bin Hafidz.
Dengan segera hadirin yang tadinya hiruk pikuk, dan kemudian bertambah dengan jama’ah setempat, menjadi sekitar seribu orang, mulai duduk dengan tertib dan ikut melantunkan syair kecintaan kepada Rasulullah saw. Sholawat yang dilantunkan oleh para Arema (Arek Malang) ini berkumandang dengan rancak dan apik, ditingkahi dengan hadrah yang dominan dengan nada bas, karena memakai terbang ukuran besar.
Setelah lantunan sholawat berlalu, baru Habib memberikan tausiyah kepada hadirin, yang hampir seluruhnya anak anak muda. Dalam majelis ta’lim yang resminya diberi nama oleh Habib Umar bin Hafidz “Majelis Sholawat Ar-Ridwan” ini, Habib menguraikan pentingnya kita bertaqwa kepada Allah, mencintai Rasulullah saw, dan sekitar permasalahan pemuda, serta pengaruh asing yang bertentangan dengan syari’at Islam.
Tausiyah disampaikan dengan penuh semangat, sebagaimana karakter Habib Jamal, yang memang memiliki sifat tegas, dan sesuai dengan sifat arek Malang yang identik dengan semangat heroik. Dalam majelis ini Habib Jamal dibantu Habib Ja’far al-Jufri dan Habib Abdul Qodir Mauladdawilah serta Habib dan Ustadz lain yang berkenan hadir dalam acara tersebut.
Mengadopsi Darul Mushthafa
Habib Achmad Jamal, lahir di kota Malang pada 14 Februari 1977. Sungguh prestasi besar bagi seorang habib yang masih muda tetapi sudah memiliki pengaruh yang besar di masyarakat. Ia anak pasangan Habib Thoha Ba’agil dan Syarifah Suud binti Abdullah Ba’agil yang sejak kecil kental dididik dengan pendidikan agama.
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, ia masuk Pesantren Darut Tauhid, asuhan Syaikh Abdullah Abdun. Pada tahun 1987, ia berangkat ke Tarim untuk belajar di Darul Mushthafa, yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz, mondok disana selama enam tahun dan pulang ke Indonesia pada tahun 2002. Ia tidak langsung pulang ke Malang, tetapi berdakwah dulu di Surabaya. Baru kemudian ke Malang, tepatnya di kota Batu.
Seorang muhsinin (dermawan) membantunya mendirikan pondok pesantren, pada waktu ia masih berumur 27 tahun. Dengan ucapan basmalah ia mendirikan Pondok Pesantren Anwaarut Taufiq Batu, Malang. Tentu saja setelah mendapat persetujuan dari para gurunya, terutama Habib Umar bin Hafidz.
Sekarang pesantren itu telah berkembang dan memiliki santri mukim sebanyak 60 santri/santriwati dari berbagai daerah di Indonesia. Malah beberapa orang sudah lulus dan melanjutkan belajar ke luar negeri, seperti ke Darul Mushthafa. Di samping itu, mereka yang kembali ke kampungnya masing masing juga segera mengembangkan dakwah lewat majelis ta’lim dan pengajian di masjid.
Dalam mendidik para santri, Habib Jamal mengadopsi pendidikan di Darul Mushthafa Tarim, khususnya dalam kemampuan dalam membaca kitab dan berbicara dalam bahasa Arab. Disamping itu, pesantren ini juga mendorong para alumnus tidak sekedar mendapatkan ilmu agama, tetapi juga bergerak dalam bidang dakwah, dimanapun.
Dakwah ke Luar negeri
Cakupan dakwah Habib Jamal tidak saja di Malang, atau Jawa Timur khususnya. Ayah tiga putra putri ini juga melebarkan sayapnya hingga ke Jakarta, misalnya, dan kota kota di Kalimantan dan Papua. Di kota kota Kalimantan namanya sudah akrab dikenal muhibbin. Pernah pula dia berdakwah di Papua dan mendapatkan sambutan yang baik dari penduduk setempat. Rencana setelah bulan Ramadhan, insya Allah dia akan melakukan rihlah dakwah ke Papua lagi.
Selain didalam negeri, namanya juga sudah dikenal di Malaysia dan Singapura. Dalam suatu kesempatan, Habib Jamal pada tahun 2007 pernah mengisi seminar internasional di Pondok Pesantren Al-Jendrami Selangor, Malaysia , bersama para pakar terkenal dari Malaysia maupun negara negara Timur Tengah. Begitu juga di Negeri Singa, beberapa majelis ta’lim mengundangnya secara periodik.
Walau cakupan dakwahnya sangat luas, “Basics saya adalah mendidik para santri di pesantren. Saya mengharapkan, mereka akan menjadi kader kader ulama dimasa depan, minimal menjadi aktivis dakwah di tempat tinggalnya,” ujarnya.
Habib Jamal juga memiliki alamat Facebook yang bisa diakses: Achmad Jamal Toha Baagil. Disini, muhibbin dapat melihat profil Habib Jamal dengan singkat tetapi cukup lengkap, dan karena  itu dia menyediakan alamat ini untuk berkomunikasi dengan para jama’ah lewat dunia maya.
Tanda Tanda Mencintai Nabi
Dalam wawancara dengan alKisah, Habib Jamal pernah menyinggung banyaknya orang menyebut nyebut dirinya mencintai Rasulullah. Namun mana buktinya? Sebab tanda mencintai seseorang adalah sering menyebut nyebut namanya.
Begitu juga, tanda mencintai Rasulullah adalah mengikuti sunnah sunnahnya. “Jadi, saya setuju dengan pendapat para Habib sepuh yang mengatakan. ‘Jangan menyebut dirinya habib kalau dalam sehari hari nya tidak mengikuti sunnah sunnah Rasulullah saw.” Tuturnya.
Hal serupa juga berlaku bagi umat Islam yang mengakui mencintai Rasulullah. Mereka harus mengikuti sunnah sunnah dan tentu saja menghindari larangan larangannya. Kita harus konsekuen menerapkan ajaran Islam sebagaimana disampaikan Rasulullah saw.
“Contohnya sederhana saja. Rasulullah paling senang bersiwak, dan apabila hendak sholat beliau bersiwak dulu. Coba sekarang, apakah ada sebatang siwak di kantong anda?”
Kita belum memahami pentingnya siwak. Namun kalau nanti seorang ahli, apalagi dari Barat, mengatakan bahwa dalam batang siwak itu terkandung zat zat yang mampu membersihkan mulut dari kotoran kotoran dan penyakit, kemungkinan kita baru mengakuinya. “Sayangnya kita lebih mempercayai orang lain daripada tuntunan nabi kita sendiri,” katanya. Jadi kalau ingin mengikuti sunnah sunnah Rasulullah, ikutilah hal hal yang sederhana dan selalu dilakukan Rasulullah saw setiap hari.
Selain bersiwak, Rasulullah juga gemar bersedekah, sholat sunnah, berpuasa sunnah, dan berkasih sayang dengan para sahabatnya, entah itu kecil atau besar, lelaki atau wanita, miskin atau kaya, rakyat jelata atau orang  berpangkat.
Habib Jamal Baagil dan Shalawat Nûr
habib jamal bin thoha baagil dan habib umar bin hafidhSetiap habib atau ulama pasti memiliki amalan bacaan atau wirid, begitu juga dengan Habib Jamal. “Saya paling senang mengamalkan Shalawat Nur, yang digubah Habib Umar bin Hafidz, guru saya,” ujarnya.
Beliau membaca Shalawat Nur sebanyak 10 kali pada usai waktu shalat wajib, dan begitu juga ketika malam menjelang tidur.
Dalam mengamalkan bacaan Shalawat itu, Habib Jamal merasakan ketenangan bathin. Pikiran yang semula ruwet menjadi terang. Dan karena Shalawat ini sudah dinyatakan Habib Umar sebagai amalan yang bisa dilaksanakan semua orang, ia sudah memberikan ijazah ammah, setiap orang boleh mengamalkannya. Selain itu fadhilah lain membaca Shalawat ini adalah selalu mempunyai ikatan dan hubungan erat dengan Rasulullah SAW.
Adapun bacaan Shalawat Nur sebagai berikut:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ وسلم ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﺭﻙ ﺍﻟﺴﺎﺭﻱ ﻭﻣﺪﺩﻙ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ
ﻭﺍﺟﻤﻌﻨﻲ ﺑﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺃﻃﻮﺍﺭﻱ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺎ ﻧﻮﺭ
“Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saarii wa madaadikal jaarii wajma’nii bihi fi kulli athwaarii wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam ya nuur”
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
Kalam Kalam Hikmah Habib Jamal bin Thoha Baagil

Kamis, 17 April 2014




 
Majelis ini sebenarnya berangkat dari keprihatinan para ulama dan habaib di Malang Raya terhadap prilaku generasi muda yang dari hari ke hari semakin jauh dari ajaran Nabi Muhammad SAW.  Mereka cenderung menganut gaya hidup bebas, pergaulan bebas, narkoba, miras dan sebagainya. Kecenderungan generasi muda dalam kehidupan yang gelap dan bertabur kemunkaran itulah menurut para ulama harus dicari jalan keluarnya, agar para kawula muda tersebut tidak semakin tenggelam dalam dunia yang penuh kemaksiatan.
Mereka tidak perlu kita hilangkan akan tetapi harus kita rubah, seperti sabda Kanjeng Nabi SAW,  “idza ro-aa minkum munkaron fal yughoyyirhu bi yadhi fain-lam yastathi’ fabi lisaanihi fain-lam yastathi’ fabi qolbihi wadzaalika adh’aful iman”. Orang yang melihat suatu kemungkaran, maka harus dirubah tapi  orangnya tidak dihilangkan. Rasul mengatakan rubah, beliau tidak mengatakan hilangkan.  Makanya Wali Songo ketika datang mereka berdakwah tidak dengan kekerasan untuk merubah kebiasaan buruk masyarakat seperti kemungkaran akan tetapi dengan merubah adat dari kebiasaan nenek moyang kita itu dengan adab agama. Nah, mereka generasi muda ini kita ubah bukan dengan kekerasan, terang Habib Jamal bin Toha Ba’agil, khodimul majelis tersebut. “Jika generasi muda kita itu sekarang asik dengan konvoi dan konsernya maka hal itu harus kita ubah dengan sholawatan dan dengan majelis maulid”, tambahnya.
Nasib masa depan bangsa ini ke depan bergantung terhadap generasi mudanya sekarang ini.  Jika generasinya sekarang sudah sedemikian lemah dan rapuh bagaimana dengan nasib negeri ini. Maka perlu suatu gerakan untuk mengarahkan generasi muda agar menjadi generasi yang beragama dan berakhlak.

Pertemuan Tiga Habaib