Tampilkan postingan dengan label Profil Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 April 2014



Dia seorang Imam al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para
auliya' di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar
yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan
laksana batu karang yang tegar diterpa samudera, seorang yang telah
terkumpul dalam dirinya antara ainul yaqin dan haqqul yaqin, beliau
adalah Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Imam
(Wadi-al-Ahqaf) Habib Umar bin Segaf Assegaf.

Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok
pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada
tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan
Nabi Muhammad SAW.

Habib Abu Bakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota kecil di
kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285H. Dalam
pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta
telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu
beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah. Namun
demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan inayah ilahi didalam
lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan
pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda
kebaikan dan kewalian.

Konon diceritakan bahawa beliau mampu mengingat segala kejadian yang
dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail. Hal ini
tidak lain sebagai isyarat akan kekuatan ruhaniahnya yang telah siap
untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari rabbnya Yang Maha Mulia.

Pada tahun 1293H, segeralah beliau bersiap untuk melakukan
perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, iaitu Hadramaut. Kota
yang bersinar dengan cahaya para auliya'. Perjalanan pertama ini adalah
atas titah dari nenek beliau (ibu dari ayahnya) seorang wanita shalihah
Fatimah binti Abdullah Allan. Dengan ditemani seorang yang mulia,
asy-Syaikh Muhammad Bazmul, beliau pun berangkat meninggalkan kota
kelahiran dan keluarga tercintanya. Setelah menempuh jarak yang begitu
jauh dan kepayahan yang tidak terbayangkan maka sampailah beliau di
kota Seiwuun sedang pamannya tercinta al-Allamah al-Habib Abdullah bin
Umar beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar
kota tersebut.

Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang allamah yang
terpandang di masanya, al-'Arifbillah al-Habib Syaikh bin Umar bin
Saggaf". Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya
memeluk dan menciuminya, tanpa terasa airmata pun bercucuran dari kedua
matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang
dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu.
Demikianlah seorang penyair berkata, hati para auliya' memiliki mata
yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia
lainnya. Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala
perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksima telah
membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abu Bakar yang baru beranjak
dewasa. Bagi Habib Abu Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan
melalui pamannya al-Habib Umar beliau mempelajari ilmu fiqih dan
tasawwuf.

Sabtu, 26 April 2014


Al Habib Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad dilahirkan  pada malam Kamis
5 Shafar 1044 H di pinggiran kota Tarim, sebuah kota terkenal di
Hadhramaut, Yaman. Beliau bermadzhab Syafi'i. Nasabnya bersambung
sampai kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, suami Sayyidatuna Fatimah binti
Rasulillah SAW.  
Ayahnya, Al Habib Alawi bin Muhammad
adalah seorang yang saleh dari keturunan orang-orang saleh. Di masa
mudanya, beliau berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad
Al-Habsyi Sh�hibusy Syi'ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata,
"Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi Allah."  
Saat
itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah
menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad bin Muhammad, Habib Alwi baru
sadar bahwa rupanya perkawinan ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad
bin Muhammad dalam ucapannya.  
Sebagaimana
suaminya, Salma adalah seorang wanita yang sholihah. Dari istrinya ini,
Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, di antaranya
adalah Abdullah.  
Ketika Habib Abdullah berusia 4
tahun, ia terserang penyakit cacar. Demikian hebat penyakit itu hingga
butalah kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi
kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan
menguasai berbagai ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak.
Rupanya Allah berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan
penglihatan batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya
sangat mengagumkan. 
Beliau sejak kecil gemar
beribadah dan riy�dhoh. Nenek dan kedua orang tuanya seringkali tidak
tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan
riy�dhoh. Mereka menasihati agar ia berhenti menyiksa diri. Demi
menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah
dan riy�dhoh yang sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki
lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya.
"Subh�nall�h, sungguh indah masa kanak-kanak...," kenang beliau suatu
hari.
Di kota Tarim, beliau tumbuh dewasa.
Bekas-bekas cacar tidak tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan
tinggi, berdada bidang, berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya
menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasihat berharga.  
Beliau
sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering
melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama. Beliau ra berkata, "Apa
kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa
aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai
kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?"  
Beliau
juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya.
Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya. Suatu hari beliau
berkata, "Dahulu aku menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang
menuntut ilmu dariku."  
"Andaikan penghuni zaman
ini mau belajar dariku, tentu akan kutulis banyak buku mengenai makna
ayat-ayat Quran. Namun, di hatiku ada beberapa ilmu yang tak kutemukan
orang yang mau menimbanya."  
Habib Abdullah
mengamati bahwa kemajuan zaman justru membuat orang-orang saleh
menyembunyikan diri; membuat mereka lebih senang menyibukkan diri
dengan Allah. "Zaman dahulu keadaannya baik. "Dagangan" kaum sholihin
dibutuhkan masyarakat, oleh karena itu mereka menampakkan diri. Zaman
ini telah rusak, masyarakat tidak membutuhkan "dagangan" mereka, karena
itu mereka pun enggan menampakkan diri," papar beliau.  
Beliau




As Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid 'Alawi bin Sayyid 'Abbas bin Sayyid 'Abdul 'Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy'ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul "Hadist al-Jumah".

Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.Selama menjalankan tugas da'wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta'limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta'lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.




Beliau adalah Ad Da'i ilallah Al Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, salah seorang ulama kharismatik yang disegani di Malang. Beliau lahir di Malang pada 21 Juli 1953.

Pendidikan dasarnya diperoleh di Madrasah Ibtidaiyah At-Taraqqie, Malang, yang pada saat itu dikelola pamannya sendiri, Al Ustadz Al Habib Alwi bin Salim Al-Aydrus.
Selesai dari Madrasah Ibtidaiyyah, beliau melanjutkan pendidikan Tsanawiyah di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Di pondok pesantren ini, beliau belajar dasar-dasar ilmu hadits langsung dari Al Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih yang di kemudian hari menjadi mertuanya.

Selepas dari Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah, sekitar tahun 1977, Al Habib Sholeh Bin Ahmad Al Aydrus mendapat tawaran beasiswa dari negeri Yordania dan Libya. Namun putra (alm.) Al Habib Ahmad Bin Salim Al Aydrus ini tidak menerima tawaran beasiswa tadi. Beliau justru memutuskan berangkat ke Makkah Al Mukarramah untuk berguru kepada As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Ihwal dipilihnya Makkah sebagai tempat tholabul 'ilmi (menuntut ilmu) tidak terlepas dari isyarah dari Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid (Tanggul) yang menyuruh Al Habib Sholeh pergi ke Makkah Al Mukarromah. "Tuntutlah ilmu ke Habibmu di Madinah Al Munawarrah," kata Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid kepada beliau yang masih ada ikatan keluarga. Yang dimaksud habib di sini adalah Rasulullah SAW.

Sehari setelah mendapat isyarah dari Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid, beliau diberitahu pamannya bahwa dirinya sudah ditunggu oleh Abuya Al Maliki di Makkah. Akhirnya berangkatlah Al Habib Sholeh meninggalkan Indonesia untuk berguru kepada Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Minggu, 20 April 2014

 

Lahir : di Singosari Malang pada 1295 H [ Tahun 1807 M]
Wafat : Jum’at, 28 Ramadhan 1370 H [ Tahun 1950 M]
Di Makamkan di Pemakaman Umum Kasin, Malang
Pendidikan : Nyantri kepada Al Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, di Kota Siwon, Hadramaut, Yaman, berguru pada Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (Shohibul Maulid), dan kepada Al Habib Ahmad bin Hasan Al Attas.
Putra/Putri : 13 Orang
Perjuangan/Pengabdian : Perintis berdirinya Madrasah Attaraqqie, Mengajar di beberapa masjid, dan majelis taklim.
Ulama Waro’ yang Sederhana
Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah dilahirkan di Singosari Malang pada tahun 1295 H atau bertepatan dengan tahun 1807 M. Beliau diasuh oleh kedua orang tuanya sampai menginjak usia remaja. Kemudian dibawa ayahnya ke Negeri Hadramaut, dan menetap di Kota Siwon untuk menuntut ilmu, supaya menjadi orang alim dalam bidang hukum Islam.
Di Hadramaut, beliau belajar kepada Al Habib Al Alim Al Alamah Muhammad bin Hadi Assegaf, yang terkenal sebagai mahaguru di Kota Siwon. Selain itu, juga berguru pada Al Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi (Shohibul Maulid) dan kepada Al Habib Ahmad bin Hasan Al Attas (Shohibul Khuroidho).
Berkat kecerdasan dan inayah dari Allah SWT, maka beliau berhasil dalam menuntut ilmu, seperti apa yang dicita-citakan ayahnya. Diantara teman-teman beliau yang seangkatan dalam menuntut ilmu itu adalah Asysyaich Abdurrahman bin Muhammad Baraja yang menjabat sebagai Qodhi di Kota Siwon.
Salah satu bukti yang menunjukkan kepadatan ilmunya, pada waktu di majelis ilmu Al Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik, ada seorang peserta majelis dari Malang menanyakan suatu masalah kepada Al Habib Abubakar. Setelah dijawab masalah tersebut, lalu Al Habib Abubakar berkata, bila ada masalah lagi, tidak perlu datang ke Gresik, cukup ditanyakan kepada seorang alim di Malang, yaitu Al Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah.
Selama tinggal di Siwon, beliau menikah dengan cucu Al Habib Sholeh bin Hasan Al Bahar di Sabah. Sekembalinya ke Malang, beliau giat mengadakan pengajian-pengajian, termasuk di Kidul Pasar. Diantara santri beliau yang terkenal, Al Habib Ahmad bin Hadi Al Hamid, Pasuruan, KH Abdullah bin Yasin, Pasuruan, KH. Muhsin Blitar, Al Habib Ali bin Abdullah Mauladdawilah Talun Lor, H. Dahlan, Wetan Pasar, dan KH Ahmad Damanhuri Malang.
Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah sangat memperhatikan bidang pendidikan, terutama pendidikan putra-putrinya. Bahkan sampai mendatangkan guru Asysyaich Ali Arrohbini untuk mengajar Qiro’atul Qur’an di rumahnya di Bareng Raya, serta mengirim beberapa putranya ke Hadramaut untuk menuntut ilmu di Siwon pada mantan gurunya, yakni Al Habib Al Alim Al Alamah Muhammad bin Hadi Assegaf.
Diantara 13 putra-putrinya yang sekarang masih ada, yakni Habib Alwi bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, yang kini berada di Jeddah, Habib M Bakir bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah di Malang, dan Ali bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah yang berada di Solo.
‘’Beliau merupakan salah satu perintis Madrasah Attaraqqie, dan sempat juga mendatangkan Al Ustadz Abdul Kadir bin Ahmad Bilfaqih dari Surabaya sekitar tahun 1940-an untuk mengajar, dan menjadi Kepala Madrasah Attaraqqie,’’ kata Ustadz Ahmad bin Salim Alaydrus, menantu Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, kala itu.
Amalan beliau sehari-hari yang menonjol adalah dzikrulloh. Diwaktu apapun saja, beliau selalu berdzikir kepada Allah SWT. ‘’Hendaknya lisanmu itu selalu basah karena gerak dengan berdzikir kepada Allah.’’
Selain itu, dalam hidupnya suka beramal, terutama pada fakir miskin, anak yatim, dan famili-familinya. ‘’Dalam hidupnya, beliau juga sangat sederhana dan berlaku waro’, dengan meninggalkan semua perkara yang syubhat (meragukan, red.), yang tidak jelas halalnya. Perbuatannya selalu dijaga benar-benar dan disesuaikan dengan hukum syariat Islam,’’ tutur Ustadz Ahmad, yang juga kakak kandung Ustadz Alwy bin Salim Alaydrus.
Ada beberapa kekeramatan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, diantaranya sewaktu Gunung Kelud di Blitar meletus dan terjadi lahar. Waktu itu beliau sedang mengajar di sebuah masjid. Atas Rahmat dan takdir Allah SWT masjid tersebut tidak roboh dan tidak tersentuh aliran lahar dari Gunung Kelud. Demikian juga dengan jamaah pengajian yang berada di dalam masjid selamat. Padahal rumah-rumah di sekitar masjid roboh dan hanyut terkena aliran lahar. Bahkan sandal Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, yang semula hanyut terbawa lahar, setelah banjir lahar redah sandal tersebut kembali lagi ke depan pintu masjid.
Beliau wafat pada hari Jum’at, 28 Ramadhan 1370 H, bertepatan dengan tahun 1950 M dalam usia 75 tahun, dan dimakamkan di pemakaman umum Kasin, Malang. Setelah beberapa hari beliau dimakamkan, beberapa pemilik rumah yang ada di sekitar pemakaman Kasin sering melihat ada cahaya yang keluar dari salah satu makam di pemakaman tersebut. Setelah diselidiki, ternyata cahaya tersebut berasal dari makam Al Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah


Syeikh Abu Bakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.”

Beberapa bulan terakhir, ada sebuah buku yang banyak dicari-cari orang. Buku tersebut memuat kumpulan biografi para habib yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Judulnya, 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Kerana respons peminatnya yang cukup besar, hanya dalam tempoh tiga bulan buku tersebut sudah tiga kali cetak ulang. Hingga diturunkannya tulisan ini, buku itu sudah dicetak hingga 12 ribu naskah.

Bila diperhatikan secara saksama, buku tersebut memiliki keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis lainnya. Selain memuat kisah perjalanan para habib sebagai insan-insan dakwah yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan agama Islam di tanah air, buku tersebut juga dilengkapi banyak foto eksklusif para habib itu sendiri.

Tidak menghairankan, kerana ternyata buku itu disusun seorang sayyid muda yang sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir bersusah payah mengumpulkan dan memelihara foto-foto para habib. Dari yang antik-antik atau foto-foto habaib dan ulama tempoh dulu, hingga foto-foto habaib zaman sekarang. Di samping mengoleksi foto, ia juga gemar mengumpulkan kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Dulu, di awal kesukaannya mengumpulkan foto-foto habaib dan manaqib para salaf, tidak terbersit sedikit pun dalam pikirannya bahwa pada suatu saat kelak ia akan menyusun buku semacam ini. Namun sekarang, terbitnya buku tersebut adalah salah satu bentuk natijah (buah) dari keringat himmah (kesungguhan)-nya selama ini, yang dengan penuh suka dan duka mengumpulkan jejak-jejak dakwah para habib.

Siapakah sayyid muda penulis buku itu? Dialah Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah.

Kenikmatan Memandang Wajah Habaib
Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah lahir pada tanggal 8 Juni 1982 di kota Solo, dari pasangan Habib Umar bin Agil bin Umar Mauladawilah (asal kota Malang) dan Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husen Assegaf (asal kota Solo).

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2007, ayah Habib Abdul Qadir wafat. Rencananya, sang ayah pada musim haji tahun ini akan berangkat haji. Tapi Allah SWT telah memanggilnya terlebih dahulu.

Dulu, saat orangtuanya menikah, yang menikahkan adalah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah.

Setelah dikaruniai seorang putra, Habib Umar bin Agil Mauladawilah (ayah Habib Abdul Qadir, penulis buku ini) menemui Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan menyampaikan kabar tentang kelahiran putra pertamanya. Saat itu, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf-lah yang memberikan nama si anak yang baru lahir tersebut. Nama yang diberikan adalah sebagaimana namanya sendiri. Yaitu, Abdul Qadir.

Masa usia sekolah Habib Abdul Qadir dijalani seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia masuk Sekolah Dasar Negeri 7 Sukun, Malang, dan kemudian melanjutkannya ke SMP Negeri 12 Malang. Selepas jenjang sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikannya pada Madrasah Aliyah Daaruttauhid Malang sambil mondok di Pondok Pesantren Daruttauhid, yang pada masa itu masih di bawah asuhan Ustadz Abdullah bin Awwadh Abdun. Ia menyelesaikan pendidikan aliyahnya ini pada tahun 2000.

Setelah selesai pendidikan MA, ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia masih meneruskan pendidikan diniyah di Pondok Pesantren Daruttauhid tersebut hingga tahun 2001, yaitu setelah gurunya, Ustadz Abdullah Abdun, wafat.

Pelopor Hadrah Basaudan di Malang

Di Majelis Taklim Riyadus Shalihin, Malang, tiap Selasa pagi dibacakan hadrah Basaudan.

Tiap Selasa pagi, mulai pukul 05.30-07.00, Majelis Taklim Riyadus Shalihin, di Jln. Kapten Piere Tendean Gg. 3 No. 4-5, Malang, Jawa Timur, ramai oleh ratusan jamaah, yang mayoritas berpakaian putih-putih. Mereka dengan khusyu’ memanjatkan doa bersama, dituntun oleh Habib Muhammad Al-Bagir bin Soleh Maulad Dawilah, pengasuh Majelis Taklim tersebut, dan membaca hadrah Basaudan. Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di karton kardus sepanjang gang sempit.

Tradisi pembacaan rangkaian Istighatsah dan doa karangan Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan ini baru dimulai sekitar tahun 2003. Hadrah Basaudan sendiri merupakan bacaan istighatsah masyarakat di Hadramaut. Habib Muhammad Al-Bagir Basaudan membuka secara resmi dan menyelenggarakan pembacaan Istighatsah dari rangkaian doa hadrah Basaudan ini secara berjamaah setelah mendapat ijazah dari Habib Ali bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Hadramaut) tahun 1423 H ketika datang ke Malang.

PDF Print E-mail
www.majalah-alkisah.comanyak hal yang membalut dan membelit kehidupan kaum muslimin yang kesemuanya ini adalah realitas. Sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh dari kita semua.

Di sela-sela peringatan Haul Al-Quthb Habib Ahmad bin Hasan Alatas di bilangan Condet, Ja­kar­ta Timur, alKisah mewawancarai seorang tokoh muda habaib yang unik, yang kesehariannya tak lepas dari kiprah di dunia pendidikan dan sosial yang tengah dirintisnya bersama sejumlah sesepuh dan kawan sejawatnya.
Habib Muhammad Anies bin Syech Baraqbah, demikian namanya. Pria kelahiran Surabaya, 25 November 1969, ini besar di daerah kelahirannya. SD hingga SMA ditempuhnya di Surabaya, tepatnya di perguruan Al-Khairiyah, yang cukup dikenal. Di sela-sela belajarnya, ia menyempatkan diri untuk bergumul dengan pengetahuan-pengetahuan agama sebagaimana ajaran kaum salaf. Ia mulazamah (tekun) mengaji kepada Syaikh Umar bin Ahmad Baraja dan putra­nya, Syaikh Ahmad Baraja, serta ke­pada Syaikh Abdullah Barmain di Masjid Ampel.
Selepas SMA, ia hijrah ke Jakarta se­telah lulus tes untuk melanjutkan pen­didikan di LIPIA hingga tamat di jurusan Qism Al-Mu’allimin. Tahun 1995, ia berangkat ke Hadhramaut, dengan tujuan belajar di Rubath Tarim Habib Hasan Asy-Syathiri. Alih-alih belajar, ia malah diminta untuk turut membantu mengajar di rubath tersebut, terutama membantu para santri baru yang belum menguasai benar bahasa Arab.
Setelah dua tahun di sana ia kembali ke tanah air untuk menggeluti dakwah dan pengajaran. Mula-mula ia mengajar di Majelis Maktabah Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan, dan selanjutnya hingga kini mengasuh beberapa majelis, di antaranya Majelis Al-Burdah, Majelis Ar-Rauhah, kesemuanya di Jakarta.

PDF Print E-mail
www.majalah-alkisah.comPerjumpaannya dengan Habib Abdurrahman Al-Masyhur meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Sang guru adalah teladan dalam kepedulian dan khidmah pada keluarga Alawiyyin. Baginya, dan bagi orang-orang yang sepertinya, berkhidmah pada keluarga besar ini sama saja dengan berkhidmah pada Rasulullah SAW.
Bicara tentang dunia habaib berarti berbicara tentang sebuah komunitas yang memiliki hubungan mata rantai genealogis dengan Rasulullah SAW. Kaitan hubungan yang ada itu disebut dengan istilah “nasab” atau “silsilah”.
Dalam keluarga besar komunitas habaib, nasab atau silsilah memiliki tempat yang sangat istimewa dan teramat penting. Bukan untuk berbangga-bangga tentunya, tapi justru sebagai pengingat bahwa mereka memanggul beban amanah yang tidak ringan. Dengan nasab yang terpercaya keshahihannya itu ia memahami bahwa dalam dirinya mengalir darah keturunan keluarga besar Ahlul Bait Rasulullah SAW yang meniscayakan agar hendaknya keutamaan akhlaq dan ilmu berpadu dalam dirinya.
Tokoh kita kali ini, Habib Ali bin Ja’far Assegaf, adalah tokoh yang tak boleh terlepas dari pembicaraan sejarah pemeliharaan nasab habaib. Setelah berlalunya masa demi masa pencatatan nasab keluarga besar ini, dialah tokoh yang meski dilahirkan di belakangan hari, tapi memiliki peran sentral di dalamnya. Dialah yang mendirikan Maktab Ad-Daimi, badan pencatat dan pemelihara nasab Alawiyyin, lembaga otonom dalam lingkungan organisasi Arrabitah Al-Alawiyah dan kemudian Maktab Ad-Dai, yang juga merupakan institusi nasab yang ia dirikan secara pribadi, setelah ia memilih untuk tidak aktif lagi di Maktab Ad-Daimi.
Kontinuitas kemurnian nasab Alawiyyin hingga saat ini amat terbantu lewat jerih payah Habib Ali bin Ja’far di masa hidupnya, yang tanpa kenal lelah menyambangi hampir setiap wilayah bumi Nusantara, bahkan hingga di sejumlah tempat Asia Tenggara, India, Afrika, dan jazirah Timur Tengah. Buah dari perjalanan panjangnya itu tertuang dalam karya masterpiece-nya, kitab Asy-Syajarah Al-‘Alawiyyah, yang kini menjadi buku induk atau buku pedoman lembaga pemeliharaan nasab Alawiyyin.
Dari waktu ke waktu, begitu banyak pribadi habaib yang dikenal luas di tengah-tengah masyarakat Nusantara, baik dalam lingkup lokal maupun nasional. Mereka dikenal dan dicintai, salah satunya, karena nasab yang mereka miliki. Karenanya, menjadi ironis bila seorang Habib Ali bin Ja’far Assegaf, yang menjadi sosok yang sangat berjasa dengan berkhidmat demi keterpeliharaan nasab sekian banyak tokoh habaib itu sendiri justru terlupakan.


PDF Print E-mail
www.majalah-alkisah.comIni adalah tugas bagi mereka yang masih sadar. Para pendidiknya, para kepala keluarganya, dan semua pihak lainnya. Sayangnya, mereka masih asyik berjalan sendiri-sendiri.
Sejak lama Pasuruan dikenal banyak orang sebagai kota gudangnya ulama dan habaib. Salah satu tokoh dakwah kota ini adalah Habib Taufiq bin Abdul Qadir bin Husein Assegaf. Tak ada yang meragukan ketokohannya. Bukan hanya di kota Pasuruan, pengaruh dakwahnya juga mencakup kota-kota lain di Jawa Timur. Namanya juga amat familiar bahkan hingga ke berbagai pelosok negeri ini.

Pria kharismatis kelahiran Pasuruan, 1969, ini tak pernah menempuh pendidikan formal, namun dari pendidikan ta’lim ke ta’lim. Sekalipun demikian, ia sosok dai yang kreatif dalam berdakwah dan dikenal berwawasan luas.

Di bulan Ramadhan, malam-malam kota Pasuruan tampak semarak dengan nuansa dakwah lewat acara Khatmul Qur’an yang dipandu oleh sang habib. Acara Khatmul Qur’an adalah tradisi warga Pasuruan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Acara ini digelar setiap malam di bulan Ramadan, yaitu mulai malam ke-9 Ramadan sampai malam ke-29 Ramadhan.

Dulunya, acara Khatmul Qur’an ini digagas oleh ulama kota Pasuruan, Habib Abdul Qadir Assegaf, yang tak lain ayahanda Habib Taufiq, menantu Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf, ulama besar Pasuruan yang juga dikenal sebagai salah satu guru Kiai Hamid Pasuruan. Habib Taufiq terus menghidupkan tradisi salafush shalih ini, yaitu ihya’ al-layali Ramadhan, menghidupan malam-malam bulan Ramadan, yang tentunya dengan amalan-amalan baik. Alhamdulillah, kota Pasuruan pada setiap malam Ramadhan pun tampak begitu hidup dan semarak dengan acara-acara keagamaan, dan ribuan orang berbondong-bondong menghadiri acara tersebut.

Jumat, 18 April 2014

Bicara dengan tokoh muda habaib yang kritis ini, banyak hal baru yang kita dapati, terutama pandangan-pandangan berkaitan dengan isu isu hangat yang menyangkut kehidupan kaum muslimin di tanah air.

Habib Muhammad Ridho bin Ahmad Bin YahyaSuatu pagi di hari Sabtu (2/3/2013), alKisah mendapat kesempatan untuk mewawancarai ulama muda jebolan Rubath Al-Jufri Madinah ini di kediamannya yang terbilang asri dan luas di bilangan Klender, Jakarta Timur. Habib Muhammad Ridho bin Ahmad bin Yahya lahir di Jakarta, 29 Desember 1973. Ayahnya Habib Ahmad bin Muhsin bin Adbullah bin Ibrahim bin Zein bin Yahya. Datuknya, Habib Ibrahim bin Zein, adalah kakeknya yang pertama kali datang dari Hadhramaut ke Indonesia. Ia berlabuh di Palembang dan menjadi guru dan penasehat agama bagi Sultan Badaruddin I. Kemudian Habib Ibrahim bin Zein diambil menjadi menantu oleh sang sultan Kesultanan Palembang Darussalam.
Sedangkan ibunya Syarifah Ruqayyah adalah putri Habib Muhammad Al Attas, seorang wulaiti (kelahiran Hadhramaut) yang menikahi perempuan pribumi asal Betawi, Kebon Nanas, Kebayoran Lama. Kakek ummi ini kemudian sempat kembali ke Hadhramaut untuk suatu urusan, namun wafat disana sebelum kembali ke Indonesia.
Habib Ridho menempuh pendidikan dasarnya di sebuah pesantren hingga tingkat Tsanawiyyah. Kemudian ia melanjutkan studinya ke Madrasah Aliyah Negeri I Mampang Prapatan. Sambil menempuh sekolah formal, ia juga menempuh pendidikan di Madrasah Ats-Tsaqafah, pimpinan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, di Bukit Duri. Tidak itu saja, kemana Sayyidil Walid mengajar, ia usahakan untuk mengikuti pelajarannya, baik di madrasah maupun majelis majelis yang dibina ulama kebanggaan kaum muslim Jakarta ini.
Sekitar tahun 1993, ia berangkat ke Madinah untuk belajar di Rubath Al-Jufri, yang diasuh oleh Al-Allamah Habib Zein bin Ibrahim bin Smith. Ia belajar di Rubath yang banyak diimpi impikan para pelajar Nusantara itu hingga tahun 2000. Kegemarannya terhadap pelajaran ilmu fiqih seperti terpuaskan dengan diajar Habib Zein bin Smith, yang dijuluki para ulama dengan sebutan “Syafi’iyyu Zamanihi” (Imam Syafi’i di Masanya). Disana pula ia banyak mengenal sosok sosok ulama besar habaib lainnya, seperti Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri dan Habib Muhammad Al Haddar, mertua Habib Zein dan Habib Umar bin Hafidz.
Satu hal yang sangat dipegannya sebagai prinsip dalam belajar di awal-awal kedatangannya di rubath tersebut ialah, selama belajar di rubath ia tak akan berbicara dalam bahasa lain kecuali bahasa Arab. Prinsip lain yang ditanamkan nya ialah target khatam satu kitab dalam beberapa bulan, baik dengan muthala’ah dihadapan guru maupun dengan sesama santri yang lebih senior darinya. Target nya, ia harus menguasai kitab itu dan mampu mengajarkannya kepada yang lain.
Setelah empat tahun di Rubath, Habib Ridho meminta izin kepada Habib Zein untuk istifadah (mengambil faidah ilmu) kepada ulama ulama Madinah lainnya.  Ulama ulama Madinah banyak dikenal mutafannin (kealimannya dalam suatu bidang tertentu).
Di antara mereka itu ialah Syaikh Sayyid Ahmadu Asy-Syinqithi Al-Hasani, yang Habib Zein juga mengambil ilmu darinnya. Syaikh Ahmadu adalah salah satu tokoh ulama senior di Madinah. Usia nya sedikit lebih tua dari Habib Zein. Sekalipun Habib Zein juga seorang yang dikenal kepakarannya, beliau tak segan-segan untuk mendulang ilmu dari ulama-ulama lainnya. “Demikian akhlaq yang juga dicontohkan guru kami , Habib Zein, yang juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmadu, padahal keduanya sama sama dikenal kealiman dan kepakarannya,’’ kata Habib Ridho. Habib Zein dalam bertutur penuh mutiara hikmah. Namun yang lebih berkesan baginya bagaimana tutur itu tampak dalam setiap perbuatan Habib Zein. Tindak tanduk beliau itu adalah cara mendidik beliau.
Habib Muhammad Ridho bin Ahmad Bin Yahya bersama Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Habib Muhammad Ridho bin Ahmad Bin Yahya bersama Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Selain itu, Habib Ridho juga belajar kepada Syaikh Muhammad Faal, yang belum lama ini meninggal dunia. “Kepada beliau ini, ana mengaji kitab kitab tafsir ushul fiqh Al-Luma’ dan Al-Muwafaqat. Semoga Allah ta’ala merahmati beliau’’. Ujarnya mengenang sosok sang guru. Begitu pula ia mengaji kepada Syaikh Shafwan Ad-Dawudi, yang banyak menulis dan mentahqiq kitab. Syaikh Shafwan diantaranya menulis kitab tentang ushul fiqh, mufradat (kosa kata) Al-Quran, dan manaqib para sahabat dan tabi’in. kepadanya, habib  muda yang tengah menanti kelahiran anak yang ketujuh ini mengaji ushul fiqih, tajwid, ulumul Qur’an, hadits, dan lain lain.
Adapun di rubath sendiri pendidikan nya langsung ditangani oleh Habib Zein, dengan mengkaji kitab kitab fiqh, nahwu, balaghah, hadits dan sebagainya, dari kitab kitab yang kecil hingga besar. Rubath Al-Jufri memang menekankan kualitas dan disiplin ilmu pengetahuan nahwu, fiqh, dan sirah. Dalam sehari materi fiqih lebih dominan diajarkan , bisa empat sampai lima kali pertemuan.
Habib Zein juga menerapkan sistem pendidikan sehari belajar-sehari ikhtibar  (ujian). Pada seminggu sekali juga diadakan ujian nahwu, fiqih dan sirah. Kalau sudah masuk ujian mingguan itu, semua santri tenggelam dalam muraja’ah (mengulang-ulang materi pelajaran). Kegiatan seperti  muhadharah (latihan pidato) setiap malam jum’at juga diadakan bagi santri rubath. Pada malam Rabu rutin dibacakan kitab Shahih Al-Bukhari, yang dilanjutkan dengan kegiatan bercerita ramah.
Kira kira beberapa tahun sebelum dirinya usai belajar disana, kegiatan muhadharah dan ceramah diganti materinya. Dulu biasanya  ceramah agama umum, kemudian diganti  menjadi ceramah yang mengulas kitab, seperti materi materi fiqih dalam Safinah, Zubad, dan lainnya. Ceramah ini tak memegang bahan, tetapi harus dengan kekuatan hafalan dan luasnya pengertian atas matan kitab yang diulas. Tujuannya sudah tentu agar santri Rubath Al-Jufri  terasah pengetahuannya dengan mendalam.
Bersama sejumlah jebolan Rubath Al-Jufri , ia juga membangun sebuah komunitas alumni yang dinamai “Alumni Thaiba” (Keluarga Madinah). Tapi nama itu juga bisa menjadi singkatan “Alumni Thalabah Madinah”.

Berkat tempaan sang ayah dan guru gurunya, ia kini dikenal sebagai seorang ulama muda yang produktif, pendidik yang bijak, sekaligus tempat banyak orang bertanya masalah masalah fiqih, khususnya fiqhun nisa’, fiqih wanita.

Habib Segaf bin Hasan BaharunSejak lama banyak orang mendengar nama besar Pondok Pesantren Darul-Lughah wad-Da’wah, Bangil, Jawa Timur yang populer dengan sebutan Pesantren Dalwa. Pondok pesantren dengan ribuan santri itu didirikan oleh seorang tokoh ulama besar, Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun. Kini Habib Hasan Baharun sudah tiada. Namun sebelum wafat, lewat pendidikan yang terbaik ia telah menyiapkan putra-putranya agar dapat menggantikannya setelah ia tiada.
Putra Habib Hasan yang bernama Habib Zen bin Hasan Baharun kini memimpin Pondok Putra. Putra lainnya, Habib Segaf bin Hasan Baharun, menjadi pengasuh Pondok Putri, dibawah kepemimpinan ibunda Habib Segaf sendiri. Sementara putra yang lainnya lagi, Habib Ali dan Habib Husen, diamanahkan untuk mengurus Pondok I’dadi, jenjang persiapan dasar memasuki pendidikan dasar untuk memasuki pendidikan pesantren tingkat selanjutnya. Jumlah santri pun semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Selain ketiga putranya di atas, Habib Hasan Baharun juga memiliki beberapa anak lagi yang saat ini semuanya bergerak di dunia dakwah, meneruskan perjuangan sang ayah.
Habib Segaf, selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Putri, juga seorang ulama muda yang produktif. Tercatat, sudah tujuh judul buku hasil karyanya telah diterbitkan. Saat ini ia tengah menyusun empat buku barunya. Seluruh buku hasil karya Habib Segaf, yang telah lama menekuni ilmu fiqih, berbicara tentang masalah fiqih sehari hari. Lewat gaya bahasa yang ringan dan mudah dicerna, buku buku hasil karyanya cukup diminati para pembaca.
Diantara karyanya itu, ternyata yang paling populer adalah buku buku yang terkait dengan masalah fiqih kewanitaan. Mungkin karena itu pula hingga saat ini ia kerap menjadi tempat bertanya banyak orang dalam masalah tersebut. Dalam satu pekan, tidak kurang dari 30 SMS masuk ke ponsel pribadinya. Belum lagi yang bertanya secara langsung atau via e-mail. Dan hampir seluruh mereka yang bertanya adalah kaum wanita.
Selain seorang ulama, yang berarti adalah pewaris Nabi, ketika melayani umat ia selalu sigap dalam menjawab pertanyaan. Bahkan ia berniat akan membuka blog sendiri di internet sebagai media konsultasi antara publik dan dirinya pada masalah masalah fiqih kewanitaan.
Keberkahan Orangtua
Al-Habib Segaf bin Hasan BaharunHabib Segaf adalah putra kedua pasangan Allâh yarham (semoga Allah mengasihi) Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun dan Syarifah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan. Habib Segaf yang lahir pada tanggal 7 Juni 1974 di kota Malang ini, mempunyai istri bernama Syarifah Fauziah binti Abdullah bin Yahya yang dinikahinya pada tahun 1998, dan saat ini telah dikaruniai empat orang anak laki laki, yaitu Muhammad Alwi, Ahmad Hasan, Muhammad Umar, dan Muhammad Husein.
Habib Segaf menuntut ilmu secara intensif sejak masih sangat kecil. Saat ia tengah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2 di SD Islamiyah Bangil, ayahnya memindahkannya ke Pondok yang baru dirintisnya itu. Waktu itu Habib Segaf baru berusia tujuh tahun, santri yang paling kecil, dan termasuk santri Habib Hasan Baharun generasi pertama.

Sanad guru jauh lebih kuat… Hingga kini kita Ahlussunnah wal Jamaah lebih berpegang kepada silsilah guru (yaitu ia mempunyai riwayat guru-guru yang bersambung hingga Rasul saw dan kau betul-betul mengetahui bahwa ia benar-benar memanut gurunya)… kita berpedoman kepada guru-guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi saw… Ia (sanad guru) adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw.

Pecinta HabibanaHABIB Munzir bin Fuad Al-Musawwa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Jum’at, 23 Februari 1973, bertepatan dengan tanggal 19 Muharram 1393H. Usai menyelesaikan sekolah lanjutan tingkat atas, ia mulai mendalami ilmu ilmu syari’ah Islam, diantaranya di Pesantren Al-Kifahi Ats-Tsaqafi, Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengambil kursus bahasa Arab di LPBA As-Salafi, Kebon Nanas, Jakarta Timur, kemudian mondok lagi di Pesantren Al-Khairat, Bekasi Timur.
Saat di pesantren Al-Khairat itulah pertama kalinya ia bertemu Habib Umar bin Hafidz, guru utamanya dikemudian hari. Kepada sang guru, ia menekuni pelajaran selama empat tahun, yaitu di Ma’had Darul Mushthafa, Tarim Hadhramaut, Yaman Selatan.
Mau Jadi Apa?
Semasa kecil, ia seorang anak yang sangat dimanja oleh ayahnya. Ia pun sampai merasa bahwa sang ayah lebih memanjakannya lebih dari anaknya yang lain. Namun, beranjak remaja, justru sang anak kesayangan ini yang putus sekolah, sementara kakak kakaknya dapat melanjutkan pendidikannya hingga sampai wisuda. Orangtuanya bangga pada mereka, tapi, sebagaimana yang sempat dituturkannya sendiri, mereka kecewa kepadanya. “Karena saya malas sekolah…,” kisahnya suatu ketika.
Namun demikian, ia rajin menghadiri majelis majelis ilmu. Disamping itu, ia juga menghabiskan waktu di hari hari mudanya dengan bersholawat seribu kali siang dan malam, berdzikir beberapa beribu kali, menjalankan puasa Nabi Daud As, dan sholat malam berjam-jam. “(Tapi) saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu,” ujarnya.
“Almarhum Ayah sangat malu. Beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia. Beliau berkata pada saya, ‘Kau ini mau jadi apa? Jika mau agama, belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai ke luar negeri. Jika ingin meneladani ilmu dunia, tuntutlah sampai ke luar negeri…’
Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda. Boleh dikata, saya ini dunia tidak, akhirat pun tidak,” katanya.
Ketika ayahnya pensiun, ibundanya membangun losmen kecil di depan rumah, yang hanya menyediakan lima kamar dan hanya disewakan pada orang yang baik baik, untuk biaya nafkah keluarga, dan ketika itu ia menjadi pelayan losmen milik ibundanya tersebut.
Setiap malam ia jarang tidur. Ia banyak termenung di kursi resepsionis yang hanya berupa meja kecil dan kursi kecil mirip di pos satpam, sambil menanti tamu. Sambil menunggu losmen, ia habiskan malam malamnya itu dengan bertafakkur, merenung, berdzikir, menangis, dan sholat malam. Sebagai pelayan losmen, tugasnya adalah menerima tamu, memasang seprai, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, seperti teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan sang bunda, jika tamu memesannya.
Sampai ketika semua kakaknya lulus sarjana, ia tergugah untuk mondok di Pesantren Al-Kifahi Al-Tsaqafi, asuhan Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan juga belajar di Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah. Namun disana ia hanya sampai sekitar dua bulan, karena sering sakit sakitan. Penyakit lamanya, yaitu asma, sering kambuh.
“Ayah makin malu, bunda pun makin sedih…” ujar Habib Munzir mengenang masa masa itu. “Lalu saya ambil saja kursus bahasa Arab di As-Salafi, pimpinan Habib Bagir Al-Attas.” Ia pun harus pulang pergi Jakarta Cipanas, yang saat itu ditempuh dalam dua-tiga jam, dengan ongkos sendiri, dua kali dalam sepekan. Ongkos perjalanan adalah hasil dari pekerjaannya di losmen tersebut.
Berjumpa Guru Mulia
Habib Munzir alMusawwa dan Habib Umar bin HafidzIa juga selalu menyempatkan diri hadir di Majelis Maulid Nabi Saw ditempat Habib Umar bin Hud Al-Attas, yang saat itu di Cipayung. Jika tak ada ongkos, ia menumpang truk. Karenanya, sering kali ia sampai harus berhujan hujanan. Tak jarang ia datang ke Majelis Maulid malam Jum’at itu dalam keadaan basah kuyup, sampai sampai ia pernah diusir oleh penjaga di rumah Habib Umar bin Hud, “Karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya. Saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan. Saya duduk di luar teras saja, karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga,” ujar Habib Munzir dalam salah satu tulisannya.
Ia sering pula berziarah ke Luar Batang, makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Suatu ketika ia datang kesana dan lupa membawa kopiah, karena datang langsung dari Cipanas. “Ya Allâh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu. Tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa berkopiah, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar. Kalau beli kopiah, aku tak makan, dan ongkos pulangku kurang,” demikian hatinya mengucap saat itu.
Akhirnya ia memutuskan membeli kopiah. Pilihannya yang berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual kopiah. Usai membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca Ya-Sin untuk dihadiahkan kepada shahibul maqam, ia menangisi kehidupannya yang penuh dengan ketidakmenentuan, mengecewakan orangtua, sering menghindar dari lingkungan yang terkadang mencemoohnya, “Kakak kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan juga New York University. Kok anaknya centeng losmen…”
Dalam tangisan itu, hatinya kembali berucap, “Wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang shalih di sisi Allâh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.”
Saat itu, tiba tiba datang serombongan kawannya di pesantren Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf. Tampak mereka senang berjumpa dengannya. Ia pun ditraktir makan. “Saya langsung teringat, ini berkah saya beradab di makam wali Allâh,” ujarnya.
Ia pun ditanya, dengan siapa dan mau kemana, ia katakan bahwa ia sendiri dan mau pulang ke kerabat ibunya di bilangan Pasar Sawo, Kebon Nanas. Mereka berkata, “Ayo bareng saja, kami antar sampai Kebon Nanas.” Ia semakin bersyukur kepada Allâh, karena memang ongkosnya tak ‘kan cukup jika pulang ke Cipanas. Hari sudah larut malam ketika ia sampai di kediaman bibi dari ibunya. Keesokan harinya ia diberi uang cukup untuk pulang ke Cipanas.
Tak lama dari kejadian itu, ia masuk Pesantren Al-Khairat, asuhan Habib Nagib bin Syaikh Abubakar, di Bekasi Timur. Di pesantren itu, setiap kali majelis pembacaan Maulid Nabi digelar dan saat Mahallul Qiyam dibacakan, ia menangis. Ia berdoa kepada Allâh bahwa ia rindu pada Rasulullah Saw. Ia pun ingin dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rasul Saw.
Dalam beberapa bulan saja setelah ia mondok disana, tibalah Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu. Itu adalah kunjungan pertama Habib Umar ke Indonesia, yaitu pada tahun 1994. Pertemuannya dengan Habib Umar membawa hikmah yang luar biasa, yang kemudian membawa langkah kakinya menuju negeri leluhurnya, Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan, tempat Habib Umar membina ma’hadnya, Darul Mushthafa.
Habib Munzir saat remaja
Habib Munzir saat remaja
Adab kepada Guru
Ilmu Allah itu hanya diberikan kepada orang yang bersih, tidak diberikan kepada orang yang suka bermaksiat.
Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir BasurrahMuda, energik, dan berpikir positif, itulah ciri yang menonjol dari Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah. Ditempa di Huraidhah dan Tarim untuk menekuni dakwah membuatnya selalu berpra­sang­ka baik dalam menyikapi persoalan yang menimpa umat Islam.
Masa kecilnya sampai kelas dua SD dihabiskannya di Arab Saudi, lalu ia pindah ke Indonesia dan bersekolah di Jamiat Kheir. Habib Ahmad juga sempat mencicipi sekolah Muhammadiyah se­belum akhirnya menuntut ilmu ke Huraidhah dan Tarim selama lima tahun lebih.
“Setamat SMA sebenarnya saya tertarik untuk melanjutkan kuliah, namun kedatangan Habib Muhammad Shaleh Alatas ke Jakarta yang menawarkan bel­ajar di Huraidhah membuat saya beru­bah pikiran, apalagi pergaulan saya dan juga banyak saudara adalah dengan para pendakwah,” tutur pria berusia 25 tahun ini.
“Awalnya rencana di Hadhramaut hanya dua tahun, khawatir kalau tidak betah. Ternyata malah keasyikan me­nun­tut ilmu di sana sampai hampir enam tahun.
Saat kedatangan Habib Muhammad ke Jakarta, dia bilang bahwa dia punya tempat belajar tapi belum ada pondok­nya. “Silakan kalau mau belajar.”
Saya berangkat berempat dengan te­man ke Huraidhah. Ini adalah cabang Pesantren Darul Musthafa, yang diasuh oleh Habib Umar Bin Hafidz,” katanya.
Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif.
Habib Syarief Muhammad Al-AydarusNamanya biasa ditulis “K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus”. Tak banyak habib yang juga dipanggil kiai atau ditulis “K.H.” di depan namanya. Tokoh habaib Kota Kembang, tokoh NU Jawa Barat, pendidik, pence­ramah, dan ketua umum Yayasan As­salaam, ini termasuk dalam kelompok yang tak banyak itu. Ayahnya, yang telah berpulang 7 Maret 1985 yang lalu, juga demikian, sering ditulis namanya dengan “K.H.”, yakni K.H. Habib Utsman Al-Aydarus. Beliau ini tokoh terkemuka di Bandung di masanya.
Habib Syarief Muhammad memang seorang kiai, baik dilihat dari ilmunya, wawasannya, penampilannya, pemba­waannya, pergaulannya, sikapnya, mau­pun pendiriannya. Bahkan sosoknya lebih menggambarkan sosok seorang kiai pribumi daripada sosok seorang habib sebagaimana dalam bayangan kebanyakan orang.
Meskipun demikian, identitas dan jiwa kehabibannya sama sekali tak hilang, bahkan berkurang pun tidak. Baik dari nama­nya, keyakinannya, amaliah­nya, kecenderungannya, pergaulannya, per­juangannya, maupun keistiqamah­an­nya.
Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif. Ini bukan singkatan yang dibuat-buat dan dicocok-cocokkan dengannya. Orang yang mengenalnya cukup dekat, insya Allah, akan sependapat bahwa masing-masing kata itu memang terlihat dalam dirinya.
Kreativitasnya dapat dilihat dari apa yang dilakukannya sejak kecil, remaja, dan terus hingga kini.
Ia pun seorang yang inovatif. Lang­kah-langkah yang ditempuhnya dan terobosan-terobosan yang dilakukannya dalam mengembangkan Yayasan As­salaam jelas-jelas menunjukkan hal itu. Jangan heran jika Assalaam dengan berbagai lembaga pendidikannya, serta berbagai unit kegiatan lainnya, terus berkembang pesat dan kini menjadi sa­lah satu yayasan Islam yang sangat di­kenal di Bandung dan diakui memiliki kualitas yang baik.
Kemudian, berbagai peran dan ama­nah yang diembannya sejak di bangku kuliah, bahkan sejak remaja, sampai kini, merupakan bukti nyata aktivitasnya yang lama. Sedangkan pergaulannya yang luas dan kedekatannya dengan berbagai kalangan jelas menunjukkan inklusi­vitas­nya. Jadi memang ia seorang KIAI.
Tetap tak Lupa Mengajar
Habib Syarief Muhammad lahir di Ban­dung tanggal 5 November 1954, put­ra pasangan Habib Utsman bin Husein Al-Aydarus dan Hj. Aisyah binti Djali Radjoe Soetan. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Adik-adiknya adalah Syarifah Hamidah, Syarif Ahmad, Syarif Hamid, dan Syarifah Mahmudah. Selain itu, Habib Syarief juga memiliki dua ka­kak perempuan lain ibu, yakni Syarifah Fathimah dan Syarifah Maimunah.
Sosok yang ramah, mudah akrab, dan tak suka menonjolkan diri ini memu­lai pendidikan formalnya di lembaga pendidikan yang dirintis ayahandanya sendiri, Assalaam. Jenjang TK dan SD diselesaikannya di sini. Kemudian ia melanjutkan ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) enam tahun di Bandung, tahun 1968-1973.
Setelah menuntaskan pendidikan­nya di PGAN, akhir tahun 1973, Habib Syarief melangkahkan kaki ke Yogya­karta di awal tahun  1974. Di sini ia  me­lanjutkan pendidikannya di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, yang dapat diselesaikan tahun 1980, sambil mondok di Pesantren Krapyak, asuhan tokoh NU terkemuka, K.H. Ali Maksum.
Saat kanak-kanak dan remaja, di samping mengaji kepada ayahandanya sendiri, ia juga mengaji kepada para kiai di Bandung meskipun tidak menetap di pesantren mereka. Di antaranya mengaji ilmu falak kepada Ajengan Burhan, pengasuh Pesantren Cijaura.
Sejak kecil telah tumbuh kecintaan­nya terhadap ilmu dan buku. Salah satu yang memotivasinya, ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya selalu muthalaah kitab setiap hari sekitar enam jam, setiap ba‘da zhuhur, ba‘da isya, dan pagi hari. Padahal, beliau setiap dua hari mengkhatamkan Al-Qur’an. Belum lagi waktunya untuk membaca shalawat. Apa yang dilakukan sang ayah itu me­motivasinya untuk gemar membaca.
Di masa kanak-kanak, setiap hari Jum’at, ia ikut pengajian kitab Minhajul Abidin dan Ihya Ulumiddin, yang diasuh ayahandanya. Juga pengajian kitab Al-Hikam di hari Sabtu. Khusus untuk ilmu-ilmu alat, sang ayah menyuruhnya untuk belajar kepada kakak sepupunya, ke­ponakan sang ayah sendiri, Habib Ahmad bin Hasyim Al-Aydarus. Namun tidak sampai tuntas, karena ia keburu pindah ke Yogya.
Ia memilih kuliah di IAIN Yogya ka­rena sejak di PGA telah banyak mem­baca buku-buku yang ditulis oleh para guru besar IAIN Yogya. Di antaranya buku-buku karya Prof. Hasbi Ash-Shiddiqi, Prof. Mukhtar Yahya, Dr. K.H. M. Tholhah Mansoer, Prof. Mukti Ali, Prof. Zaini Dahlan. Ada sekitar 15 pe­nulis yang bukunya sering ia baca dan sebagian besar mereka adalah guru be­sar dan dosen-dosen senior di sana.
Ketika pertama kali datang di Yogya, ia tinggal di kediaman Dr. K.H. Tholhah Mansur. Kemudian atas saran beberapa orang, termasuk K.H. Anwar Musaddad, ia masuk Pesantren Krapyak sambil kuliah di IAIN Yogya.

Sekitar 500 sepeda motor dan mobil berkonvoi turun dari daerah Batu menuju kota Malang pada malam Jum’at Legi, 11 Juni. Penumpang yang kebanyakan para pemuda, memakai baju koko putih, peci putih, dan berjaket hitam. Mereka membawa bendera kebesaran bertuliskan Sholawat di Bumi Arema. Ada juga yang bertuliskan Arema Bersholawat. Ada pula Majelis Shalawat Ar-Ridwan. Iring iringan itu berjalan dengan tertib dalam jarak 20 km yang ditempuh sekitar 40 menit menuju Masjid al-Huda di kota Malang.

Al Habib Jamal Bin Thoha Baagil
Seorang habib muda bersorban putih turun dari mobil dan melangkah masuk ke halaman masjid. Itulah Habib Achmad Jamal bin Thoha Ba’agil, sang pemimpin sekaligus pemrakarsa gerakan Sholawat di Bumi Arema setiap malam Senin Legi ba’da sholat Isya’. Beberapa waktu kemudian, Habib Jamal Ba’agil, begitu alumnus Darul Mushthafa Tarim ini sering disapa, memimpin sholawat Adh-Dhiya’ullami’, gubahan gurunya, Habib Umar bin Hafidz.
Dengan segera hadirin yang tadinya hiruk pikuk, dan kemudian bertambah dengan jama’ah setempat, menjadi sekitar seribu orang, mulai duduk dengan tertib dan ikut melantunkan syair kecintaan kepada Rasulullah saw. Sholawat yang dilantunkan oleh para Arema (Arek Malang) ini berkumandang dengan rancak dan apik, ditingkahi dengan hadrah yang dominan dengan nada bas, karena memakai terbang ukuran besar.
Setelah lantunan sholawat berlalu, baru Habib memberikan tausiyah kepada hadirin, yang hampir seluruhnya anak anak muda. Dalam majelis ta’lim yang resminya diberi nama oleh Habib Umar bin Hafidz “Majelis Sholawat Ar-Ridwan” ini, Habib menguraikan pentingnya kita bertaqwa kepada Allah, mencintai Rasulullah saw, dan sekitar permasalahan pemuda, serta pengaruh asing yang bertentangan dengan syari’at Islam.
Tausiyah disampaikan dengan penuh semangat, sebagaimana karakter Habib Jamal, yang memang memiliki sifat tegas, dan sesuai dengan sifat arek Malang yang identik dengan semangat heroik. Dalam majelis ini Habib Jamal dibantu Habib Ja’far al-Jufri dan Habib Abdul Qodir Mauladdawilah serta Habib dan Ustadz lain yang berkenan hadir dalam acara tersebut.
Mengadopsi Darul Mushthafa
Habib Achmad Jamal, lahir di kota Malang pada 14 Februari 1977. Sungguh prestasi besar bagi seorang habib yang masih muda tetapi sudah memiliki pengaruh yang besar di masyarakat. Ia anak pasangan Habib Thoha Ba’agil dan Syarifah Suud binti Abdullah Ba’agil yang sejak kecil kental dididik dengan pendidikan agama.
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, ia masuk Pesantren Darut Tauhid, asuhan Syaikh Abdullah Abdun. Pada tahun 1987, ia berangkat ke Tarim untuk belajar di Darul Mushthafa, yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz, mondok disana selama enam tahun dan pulang ke Indonesia pada tahun 2002. Ia tidak langsung pulang ke Malang, tetapi berdakwah dulu di Surabaya. Baru kemudian ke Malang, tepatnya di kota Batu.
Seorang muhsinin (dermawan) membantunya mendirikan pondok pesantren, pada waktu ia masih berumur 27 tahun. Dengan ucapan basmalah ia mendirikan Pondok Pesantren Anwaarut Taufiq Batu, Malang. Tentu saja setelah mendapat persetujuan dari para gurunya, terutama Habib Umar bin Hafidz.
Sekarang pesantren itu telah berkembang dan memiliki santri mukim sebanyak 60 santri/santriwati dari berbagai daerah di Indonesia. Malah beberapa orang sudah lulus dan melanjutkan belajar ke luar negeri, seperti ke Darul Mushthafa. Di samping itu, mereka yang kembali ke kampungnya masing masing juga segera mengembangkan dakwah lewat majelis ta’lim dan pengajian di masjid.
Dalam mendidik para santri, Habib Jamal mengadopsi pendidikan di Darul Mushthafa Tarim, khususnya dalam kemampuan dalam membaca kitab dan berbicara dalam bahasa Arab. Disamping itu, pesantren ini juga mendorong para alumnus tidak sekedar mendapatkan ilmu agama, tetapi juga bergerak dalam bidang dakwah, dimanapun.
Dakwah ke Luar negeri
Cakupan dakwah Habib Jamal tidak saja di Malang, atau Jawa Timur khususnya. Ayah tiga putra putri ini juga melebarkan sayapnya hingga ke Jakarta, misalnya, dan kota kota di Kalimantan dan Papua. Di kota kota Kalimantan namanya sudah akrab dikenal muhibbin. Pernah pula dia berdakwah di Papua dan mendapatkan sambutan yang baik dari penduduk setempat. Rencana setelah bulan Ramadhan, insya Allah dia akan melakukan rihlah dakwah ke Papua lagi.
Selain didalam negeri, namanya juga sudah dikenal di Malaysia dan Singapura. Dalam suatu kesempatan, Habib Jamal pada tahun 2007 pernah mengisi seminar internasional di Pondok Pesantren Al-Jendrami Selangor, Malaysia , bersama para pakar terkenal dari Malaysia maupun negara negara Timur Tengah. Begitu juga di Negeri Singa, beberapa majelis ta’lim mengundangnya secara periodik.
Walau cakupan dakwahnya sangat luas, “Basics saya adalah mendidik para santri di pesantren. Saya mengharapkan, mereka akan menjadi kader kader ulama dimasa depan, minimal menjadi aktivis dakwah di tempat tinggalnya,” ujarnya.
Habib Jamal juga memiliki alamat Facebook yang bisa diakses: Achmad Jamal Toha Baagil. Disini, muhibbin dapat melihat profil Habib Jamal dengan singkat tetapi cukup lengkap, dan karena  itu dia menyediakan alamat ini untuk berkomunikasi dengan para jama’ah lewat dunia maya.
Tanda Tanda Mencintai Nabi
Dalam wawancara dengan alKisah, Habib Jamal pernah menyinggung banyaknya orang menyebut nyebut dirinya mencintai Rasulullah. Namun mana buktinya? Sebab tanda mencintai seseorang adalah sering menyebut nyebut namanya.
Begitu juga, tanda mencintai Rasulullah adalah mengikuti sunnah sunnahnya. “Jadi, saya setuju dengan pendapat para Habib sepuh yang mengatakan. ‘Jangan menyebut dirinya habib kalau dalam sehari hari nya tidak mengikuti sunnah sunnah Rasulullah saw.” Tuturnya.
Hal serupa juga berlaku bagi umat Islam yang mengakui mencintai Rasulullah. Mereka harus mengikuti sunnah sunnah dan tentu saja menghindari larangan larangannya. Kita harus konsekuen menerapkan ajaran Islam sebagaimana disampaikan Rasulullah saw.
“Contohnya sederhana saja. Rasulullah paling senang bersiwak, dan apabila hendak sholat beliau bersiwak dulu. Coba sekarang, apakah ada sebatang siwak di kantong anda?”
Kita belum memahami pentingnya siwak. Namun kalau nanti seorang ahli, apalagi dari Barat, mengatakan bahwa dalam batang siwak itu terkandung zat zat yang mampu membersihkan mulut dari kotoran kotoran dan penyakit, kemungkinan kita baru mengakuinya. “Sayangnya kita lebih mempercayai orang lain daripada tuntunan nabi kita sendiri,” katanya. Jadi kalau ingin mengikuti sunnah sunnah Rasulullah, ikutilah hal hal yang sederhana dan selalu dilakukan Rasulullah saw setiap hari.
Selain bersiwak, Rasulullah juga gemar bersedekah, sholat sunnah, berpuasa sunnah, dan berkasih sayang dengan para sahabatnya, entah itu kecil atau besar, lelaki atau wanita, miskin atau kaya, rakyat jelata atau orang  berpangkat.
Habib Jamal Baagil dan Shalawat Nûr
habib jamal bin thoha baagil dan habib umar bin hafidhSetiap habib atau ulama pasti memiliki amalan bacaan atau wirid, begitu juga dengan Habib Jamal. “Saya paling senang mengamalkan Shalawat Nur, yang digubah Habib Umar bin Hafidz, guru saya,” ujarnya.
Beliau membaca Shalawat Nur sebanyak 10 kali pada usai waktu shalat wajib, dan begitu juga ketika malam menjelang tidur.
Dalam mengamalkan bacaan Shalawat itu, Habib Jamal merasakan ketenangan bathin. Pikiran yang semula ruwet menjadi terang. Dan karena Shalawat ini sudah dinyatakan Habib Umar sebagai amalan yang bisa dilaksanakan semua orang, ia sudah memberikan ijazah ammah, setiap orang boleh mengamalkannya. Selain itu fadhilah lain membaca Shalawat ini adalah selalu mempunyai ikatan dan hubungan erat dengan Rasulullah SAW.
Adapun bacaan Shalawat Nur sebagai berikut:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ وسلم ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﺭﻙ ﺍﻟﺴﺎﺭﻱ ﻭﻣﺪﺩﻙ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ
ﻭﺍﺟﻤﻌﻨﻲ ﺑﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺃﻃﻮﺍﺭﻱ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺎ ﻧﻮﺭ
“Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saarii wa madaadikal jaarii wajma’nii bihi fi kulli athwaarii wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam ya nuur”
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
Kalam Kalam Hikmah Habib Jamal bin Thoha Baagil

Jumat, 28 Maret 2014


Dengan karya karya terjemahannya, ia berharap akan semakin banyak pelajar dan peminat ilmu ilmu agama yang dapat mengetahui informasi yang terkandung di dalam kitab kitab peninggalan para ulama terdahulu itu.

Habib Abdul Qodir bin Ahmad MauladdawilahSejak lama masyarakat islam Indonesia mengenal istilah Kitab Kuning. Namun, sekalipun akrab dengan istilah itu, sebagian besar umat islam Indonesia pada kenyataan nya belum mengakrabi isinya, bahkan membacanya pun masih sulit. Padahal, kitab kitab karya peninggalan para salaf itu menyimpan banyak informasi keilmuan yang sangat penting.
Berangkat dari kondisi itulah, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Mauladdawilah, da’i muda kelahiran Malang 29 September 1981, sejak sekitar setahun silam menerbitkan sejumlah buku yang merupakan hasil terjemahannya dari kitab kitab karya para ulama salaf. Dengan karya-karya terjemahannya itu, ia berharap akan semakin banyak pelajar dan peminat ilmu-ilmu agama yang dapat mengetahui informasi yang terkandung di dalam kitab kitab peninggalan para ulama terdahulu itu.
Himmah Menyala-nyala
Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di SD At-Taroqi Malang, tahun 1994 Habib Abdul Qodir masuk Pondok Pesantren Darut Tauhid, yang juga terletak di kota Malang, dibawah asuhan Ustadz Abdullah Awadh Abdun. Pilihan nya jatuh pada Pesantren Darut Tauhid, karena di pesantren itu terselenggara pendidikan agama dan pendidikan umum secara bersamaan.
Setelah sekitar 2 tahun mondok di Darut Tauhid, ia masuk PIQ (Pesantren Ilmu AlQuran), Malang, asuhan K.H. Bashori Alwi, juga selama sekitar dua tahun. Ia dekat dengan Ustadz Luthfi Bashori, salah seorang pengajar di PIQ yang juga putra Kiyai Bashori Alwi, pengasuh PIQ. Dari kedekatan nya itu pula ia mulai tertarik untuk melanjutkan pelajaran di Arab Saudi, Pesantren Sayyid Muhammad Al-Maliki. Ustadz Luthfi Bashori sendiri adalah salah seorang lulusan Pesantren Al-Maliki.
Setelah 2 tahun di PIQ, ia mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan pelajarannya di Pesantren Al-Maliki, mengurus surat surat, perizinan, dan segala sesuatunya. Rupanya, proses pengurusan yang telah memakan waktu cukup lama itu tidak kunjung selesai. Ia khawatir, himmahnya yang sedang memuncak akan luntur. Maka mulailah ia mencari negara tujuan alternatif. Pilihannya jatuh pada Hadhramaut, di Pesantren Darul Musthafa.
Namun orangtua nya justru mengingatkan bahwa kondisi di Hadhramaut itu tidak senyaman Saudi. Fasilitas kota, keamanan wilayah, dan sebagainya, masih sangat minim. Tapi tekadnya telah meneguhkan kakinya untuk terus melangkah menuju Hadhramaut. Semangatnya untuk menimba ilmu di luar negeri memang sedang menyala nyala. Apalagi ternyata proses pengurusan perizinan dan sebagainya cukup mudah, tidak bertele tele. Setelah segala sesuatu yang diperlukan selesai dipersiapkan, terbanglah Habib Abdul Qodir ke Hadhramaut.
Delapan Tahun di Darul Musthafa

Sesampainya di Darul Musthafa, pertama kali ia duduk di Halaqah Syaikh Muhammad Al-Ahdal. Tapi baru saja beberapa hari berselang, Habib Umar bin Hafidz membuka halaqah baru yang diperuntukkan bagi murid murid baru. Melihat hal itu, ia langsung berinisiatif pindah ke halaqah Habib Umar, sekalipun pelajaran di halaqah itu dimulai dari dasar sekali, sedangkan ia sendiri sebenarnya telah memiliki sedikit bekal dari yang telah ia dapat sewaktu mondok di Darut Tauhid dan PIQ, Malang. Rupanya ia sendiri berpandangan, sewaktu berada di Tarim, ia akan mulai segala sesuatunya dari nol lagi.
Habib Abdul Qodir bin Ahmad Mauladdawilah bersama habib Muhammad Syahab dan habib Hud Albagir Alathos

Di tengah riuh ramainya bumi Indonesia dengan persoalan-persoalan di segala lini kehidupan, muncullah sosok Habib Syekh “the Contender” yang datang menandingi (melawan) dengan “Gerakan Shalawat”nya.

Profil Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa)
“Rasul adalah orang yang paling bahagia jika umatnya bisa bahagia. Salawat kepada Nabi bisa disuarakan dalam kondisi apapun, bahkan saat harus berjuang menegakkan kebenaran”, kata Mahfud MD dalam Pengajian Akbar IPHI bersama Habib Syekh yang dihadiri ribuan umat muslim di Lap. Kota Barat, Solo (7/4/2012)
Orang boleh jadi belum mengenal Habib Syekh, tapi cepat atau lambat, Sang Habib akan segera datang menyapa dengan lantunan suara salawat yang begitu merdu, tentu beserta dengan ribuan lebih jamaah setia yang sudah lebih dulu “akrab” dengannya. Suaranya yang berat, berwibawa lagi khas tidak hanya “menyihir” (menghipnotis) ribuan jamaah, tapi juga “menghentak” para kawula muda yang biasanya dengan berpakaian putih-putih mendatangi pengajian. Mereka berarak-arakan mengibarkan bendera layaknya sebuah konvoi. Tidak sembarang bendera, tapi bertuliskan “Syekher Mania ”, dan juga ada bendera-bendera lain yang berkibar mendampingi seperti bendera “Slankers” dan supporter bola tertentu.
Siapa Sang Habib Itu?
Habib Syech bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf . Beliau adalah tokoh Alim dan Imam Masjid Assegaf yang berada di Pasar Kliwon kota Solo. Berawal dari Pendidikan dari guru besarnya sekaligus Ayahanda, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mendalami Ilmu agama berlanjut ke paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaut. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam Al-Arifbillah, Al-Habib Anis bin Alwiy Al-Habsyi “Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi”. Berawal dari dukungan beliau, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mensyiarkan sekaligus mengumandangkan Sholawat Nabi yang berawal di kota Solo. Dengan penuh keyakinan dan niat lillahi ta’ala, perkembangan syi’ar sholawat beliau sampai saat ini semakin pesat. Namun hal ini juga tak terlepas dari peran serta Majelis Ahbabul Musthofa.
Majelis Ahbabul Musthofa sendiri berdiri sekitar tahun 1998 di kota Solo, tepatnya di kampung Mertodranan. Berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW melalui lantunan sholawat.
Perjalanan hidup Habib kelahiran Solo, 20 September 1961, ini cukup berliku. Beliau pernah jaya sebagai pedagang tapi kemudian bangkrut. Di saat sulit itu, justru Sang Habib tampil melakukan dakwah menggunakan “kereta angin” ke pelosok-pelosok untuk melaksanakan tugas dari sang guru, almarhum Habib Anis bin Alwi Alhabsyi, imam masjid Riyadh, Gurawan, Solo. Pada saat itu Habib Syekh bin Abdul Qadir Asseggaf juga sering diejek sebagai orang yang tidak punya pekerjaan dan habib jadi-jadian. Namun Habib Syekh tidak pernah marah atau mendendam kepada orang yang mengejeknya. Justru sebaliknya, beliau tetap tersenyum dan terkadang berderma (memberi sesuatu) kepada orang tersebut.
Habib Syech bersama putranya Yik Thoha bin Syech
Habib Syech bersama putranya Yik Thoha bin Syech
Meski berdakwah dalam kondisi yang serba “pas-pasan”, tidak jarang Sang Habib pun tetap mengusahakan membawa nasi bungkus, untuk dibagi-bagikan kepada jamaahnya di pelosok-pelosok kampung. Taklimnya saat awal-awal adalah dari kampung ke kampung di seputaran Solo dan Jawa Tengah, serta terkadang juga diselenggarakan di daerah Kebagusan. Kini dakwah Sang Habib tidak hanya bisa dinikmati oleh segelintir penduduk kampung saja, tapi sudah meluas ke berbagai daerah di tanah air dan bahkan di luar negeri. Tembang-tembang sholawatnya pun telah beredar luas di dunia maya dan siap untuk diunduh, termasuk NSP (Nada Sambung Pribadi)-nya.
Syi’ir Jawa, Sholawat Khas Sang Habib Yang “Menyihir”,
Selain mencipta sendiri, Habib Syekh juga membawakan (mempopulerkan) kembali qashidah lama yang dikemas sedemikian rupa iramanya sehingga barang “lama”(tradisional) itupun seakan menjadi “baru” dan lebih menggoda telinga (indah) untuk terus mendengarnya, seperti yang berikut ini. (Satu lagi, Sholawat Syiir Jawa “Padang Bulan”, di bagian akhir tulisan ini).
Habib Syech bin abdul qodir assegaf
Sholli wa sallim daa’iman ‘alahmada
Sholli wa sallim daa’iman ‘alahmada
Wal ali wal ashaa biman qod wahhada
Wal ali wal ashaa biman qod wahhada
Eman lo wong Islam, ninggal Sholat wengi
Sak ben dalu turu, ora gelem tangi
Sholat wengi ngono, disenengi Gusti
Sopo gelem nyuwun, pasti di paringi
Sholat limang waktu, ayo podo njogo
Jama’ah nang masjid, bareng sak kluwargo
Ganjarane slawe, celengan suwargo
Malah biso dadi, pitu likur ugo
Yen Sholat kesusu, ora biso pernah
Rukuk lan sujude, ditoto sing genah
Sing khusyu’ lan khudhur, ugo tumakninah
Ngerteni sing wajib, lan ngerti sing sunah
Yen rumongso sugih, itungen donyone
Bagiane Zakat, ojo dilalekne
Dulur karo tonggo, sing podo miskine
kabeh podo nunggu, zakat bagiane
Yen karo tonggone, Sing apik atine
Yen kahanan longgar, mikiro butuhe
Sajak perlu utang, enggal di peringne
Nanging ojo nganti, njaluk anak ane
Ayo do ngurangi, nonton televisi
Timbang nonton TV, luweh becik ngaji
“Ahbaabul Musthofa” wadah kanggo ngaji
Kumpul poro Habaib lan poro Kyai
Eman lo wong ngaji, campur lanang wadon
Campur lanang wadon, lamun dudu mahrom
Biso biso malah, nglakoni sing harom
Ilmu gak manfa’at, rusak malah klakon
Lanang karo wadon, manggon sepi sepi
Nyanding senggal senggol koyok kebo sapi
Ngunu kuwi duso, nurut poro nabi
Ojo di terusno, yen durung di rabi
SYI’IR PADANG BULAN
(Allohumma Sholli wa Sallim ‘alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammadin) 2X
(‘Adada maa fii ‘ilmillahi Sholatan daaimatan bidawaami mulkillaahi) 2X
(Padang bulan, padange koyo rino.
Rembulane sing ngawe-awe) 2X
Ngelengake, ojo turu sore.
(E… Kene tak critani, kanggo sebo mengko sore) 2X
(Lamun wong tuwo, Lamun wong tuwo keliru mimpine
Ngalamat bakal, Ngalamat bakal getun mburine) 2X
Wong tuwo loro, kundur ing ngarso pengeran
(Anak putune, rame rame rebutan warisan) 2X
(Wong tuwa loro, ing njero kubur anyandang susah
Sebab mirsani, putera puterine ora ngibadah (dho
pecah belah)) 2X
Kang den arep-arep, yoiku turune rahmat
(Jebul kang teka – Jebul kang teka, nambahi fitnah) 2X
(Iki dino, ojo lali lungo ngaji
Takon marang, Kyai Guru kang pinuji) 2X
Enggal siro, ora gampang kebujuk syetan
(Insya Alloh, kito menang lan kabegjan) 2X
(Jaman kepungkur, ono jaman jaman buntutan
Esuk-esuk, rame rame luru ramalan) 2X
Gambar kucing, dikira gambar macan
(Bengi diputer – bengi diputer, metu wong edan) 2X
(Kurang puas kurang puas, luru ramalan
Wong ora waras wong ora waras, dadi takonan) 2X
Kang ditakoni, ngguyu cekaka’an
(Jebul kang takon – jebul kang takon, wis ketularan) 2x
Jadwal Pengajian Rutin
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf bersama tim Hadroh Ahbaabul Musthofa Kudus
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf bersama tim Hadroh Ahbaabul Musthofa Kudus
Pengajian Rutin Malam Kamisan
Bertempat di Ndalem Guru Mulia Al Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf, Jl.Bengawan Solo 6, No.12,
semanggi kidul Solo.
Pengajian Rutin Lapanan
Malam Sabtu Kliwon di Masjid
Agung Baitul Makmur Purwodadi-
Grobogan.
Malam Rabu Pahing di Halaman
Masjid Agung Kudus.
Malam Sabtu Legi di Halaman
Masjid Agung Baitul Makmur
Jepara.
Malam Ahad Pahing di Masjid
Assakinah, Puro Asri, Sragen.
Malam Jum’at Pahing di Halaman
PP. Minhajuttamyiz Timoho,
belakang UIN Sunan Kalijaga.
Malam Ahad Legi di Halaman
Masjid Agung Surakarta