Sekitar 500 sepeda motor dan mobil
berkonvoi turun dari daerah Batu menuju kota Malang pada malam Jum’at
Legi, 11 Juni. Penumpang yang kebanyakan para pemuda, memakai baju koko
putih, peci putih, dan berjaket hitam. Mereka membawa bendera kebesaran
bertuliskan Sholawat di Bumi Arema. Ada juga yang bertuliskan Arema Bersholawat. Ada pula Majelis Shalawat Ar-Ridwan. Iring iringan itu berjalan dengan tertib dalam jarak 20 km yang ditempuh sekitar 40 menit menuju Masjid al-Huda di kota Malang.
Seorang habib muda bersorban putih turun
dari mobil dan melangkah masuk ke halaman masjid. Itulah Habib Achmad
Jamal bin Thoha Ba’agil, sang pemimpin sekaligus pemrakarsa gerakan
Sholawat di Bumi Arema setiap malam Senin Legi ba’da sholat Isya’.
Beberapa waktu kemudian, Habib Jamal Ba’agil, begitu alumnus Darul
Mushthafa Tarim ini sering disapa, memimpin sholawat Adh-Dhiya’ullami’, gubahan gurunya, Habib Umar bin Hafidz.
Dengan segera hadirin yang tadinya hiruk
pikuk, dan kemudian bertambah dengan jama’ah setempat, menjadi sekitar
seribu orang, mulai duduk dengan tertib dan ikut melantunkan syair
kecintaan kepada Rasulullah saw. Sholawat yang dilantunkan oleh para
Arema (Arek Malang) ini berkumandang dengan rancak dan apik, ditingkahi
dengan hadrah yang dominan dengan nada bas, karena memakai terbang
ukuran besar.
Setelah lantunan sholawat berlalu, baru
Habib memberikan tausiyah kepada hadirin, yang hampir seluruhnya anak
anak muda. Dalam majelis ta’lim yang resminya diberi nama oleh Habib
Umar bin Hafidz “Majelis Sholawat Ar-Ridwan” ini, Habib menguraikan
pentingnya kita bertaqwa kepada Allah, mencintai Rasulullah saw, dan
sekitar permasalahan pemuda, serta pengaruh asing yang bertentangan
dengan syari’at Islam.
Tausiyah disampaikan dengan penuh
semangat, sebagaimana karakter Habib Jamal, yang memang memiliki sifat
tegas, dan sesuai dengan sifat arek Malang yang identik dengan semangat
heroik. Dalam majelis ini Habib Jamal dibantu Habib Ja’far al-Jufri dan
Habib Abdul Qodir Mauladdawilah serta Habib dan Ustadz lain yang
berkenan hadir dalam acara tersebut.
Mengadopsi Darul Mushthafa
Habib Achmad Jamal, lahir di kota Malang
pada 14 Februari 1977. Sungguh prestasi besar bagi seorang habib yang
masih muda tetapi sudah memiliki pengaruh yang besar di masyarakat. Ia
anak pasangan Habib Thoha Ba’agil dan Syarifah Suud binti Abdullah
Ba’agil yang sejak kecil kental dididik dengan pendidikan agama.
Setelah menempuh pendidikan dasar dan
menengah, ia masuk Pesantren Darut Tauhid, asuhan Syaikh Abdullah Abdun.
Pada tahun 1987, ia berangkat ke Tarim untuk belajar di Darul
Mushthafa, yang dipimpin oleh Habib Umar bin Hafidz, mondok disana
selama enam tahun dan pulang ke Indonesia pada tahun 2002. Ia tidak
langsung pulang ke Malang, tetapi berdakwah dulu di Surabaya. Baru
kemudian ke Malang, tepatnya di kota Batu.
Seorang muhsinin (dermawan)
membantunya mendirikan pondok pesantren, pada waktu ia masih berumur 27
tahun. Dengan ucapan basmalah ia mendirikan Pondok Pesantren Anwaarut
Taufiq Batu, Malang. Tentu saja setelah mendapat persetujuan dari para
gurunya, terutama Habib Umar bin Hafidz.
Sekarang pesantren itu telah berkembang
dan memiliki santri mukim sebanyak 60 santri/santriwati dari berbagai
daerah di Indonesia. Malah beberapa orang sudah lulus dan melanjutkan
belajar ke luar negeri, seperti ke Darul Mushthafa. Di samping itu,
mereka yang kembali ke kampungnya masing masing juga segera
mengembangkan dakwah lewat majelis ta’lim dan pengajian di masjid.
Dalam mendidik para santri, Habib Jamal
mengadopsi pendidikan di Darul Mushthafa Tarim, khususnya dalam
kemampuan dalam membaca kitab dan berbicara dalam bahasa Arab. Disamping
itu, pesantren ini juga mendorong para alumnus tidak sekedar
mendapatkan ilmu agama, tetapi juga bergerak dalam bidang dakwah,
dimanapun.
Dakwah ke Luar negeri
Cakupan dakwah Habib Jamal tidak saja di
Malang, atau Jawa Timur khususnya. Ayah tiga putra putri ini juga
melebarkan sayapnya hingga ke Jakarta, misalnya, dan kota kota di
Kalimantan dan Papua. Di kota kota Kalimantan namanya sudah akrab
dikenal muhibbin. Pernah pula dia berdakwah di Papua dan mendapatkan
sambutan yang baik dari penduduk setempat. Rencana setelah bulan
Ramadhan, insya Allah dia akan melakukan rihlah dakwah ke Papua lagi.
Selain didalam negeri, namanya juga sudah
dikenal di Malaysia dan Singapura. Dalam suatu kesempatan, Habib Jamal
pada tahun 2007 pernah mengisi seminar internasional di Pondok Pesantren
Al-Jendrami Selangor, Malaysia , bersama para pakar terkenal dari
Malaysia maupun negara negara Timur Tengah. Begitu juga di Negeri Singa,
beberapa majelis ta’lim mengundangnya secara periodik.
Walau cakupan dakwahnya sangat luas, “Basics saya
adalah mendidik para santri di pesantren. Saya mengharapkan, mereka
akan menjadi kader kader ulama dimasa depan, minimal menjadi aktivis
dakwah di tempat tinggalnya,” ujarnya.
Habib Jamal juga memiliki alamat Facebook
yang bisa diakses: Achmad Jamal Toha Baagil. Disini, muhibbin dapat
melihat profil Habib Jamal dengan singkat tetapi cukup lengkap, dan
karena itu dia menyediakan alamat ini untuk berkomunikasi dengan para
jama’ah lewat dunia maya.
Tanda Tanda Mencintai Nabi
Dalam wawancara dengan alKisah, Habib
Jamal pernah menyinggung banyaknya orang menyebut nyebut dirinya
mencintai Rasulullah. Namun mana buktinya? Sebab tanda mencintai
seseorang adalah sering menyebut nyebut namanya.
Begitu juga, tanda mencintai Rasulullah
adalah mengikuti sunnah sunnahnya. “Jadi, saya setuju dengan pendapat
para Habib sepuh yang mengatakan. ‘Jangan menyebut dirinya habib kalau
dalam sehari hari nya tidak mengikuti sunnah sunnah Rasulullah saw.”
Tuturnya.
Hal serupa juga berlaku bagi umat Islam
yang mengakui mencintai Rasulullah. Mereka harus mengikuti sunnah sunnah
dan tentu saja menghindari larangan larangannya. Kita harus konsekuen
menerapkan ajaran Islam sebagaimana disampaikan Rasulullah saw.
“Contohnya sederhana saja. Rasulullah
paling senang bersiwak, dan apabila hendak sholat beliau bersiwak dulu.
Coba sekarang, apakah ada sebatang siwak di kantong anda?”
Kita belum memahami pentingnya siwak.
Namun kalau nanti seorang ahli, apalagi dari Barat, mengatakan bahwa
dalam batang siwak itu terkandung zat zat yang mampu membersihkan mulut
dari kotoran kotoran dan penyakit, kemungkinan kita baru mengakuinya.
“Sayangnya kita lebih mempercayai orang lain daripada tuntunan nabi kita
sendiri,” katanya. Jadi kalau ingin mengikuti sunnah sunnah Rasulullah,
ikutilah hal hal yang sederhana dan selalu dilakukan Rasulullah saw
setiap hari.
Selain bersiwak, Rasulullah juga gemar
bersedekah, sholat sunnah, berpuasa sunnah, dan berkasih sayang dengan
para sahabatnya, entah itu kecil atau besar, lelaki atau wanita, miskin
atau kaya, rakyat jelata atau orang berpangkat.
Habib Jamal Baagil dan Shalawat Nûr

Setiap
habib atau ulama pasti memiliki amalan bacaan atau wirid, begitu juga
dengan Habib Jamal. “Saya paling senang mengamalkan Shalawat Nur, yang
digubah Habib Umar bin Hafidz, guru saya,” ujarnya.
Beliau membaca Shalawat Nur sebanyak 10 kali pada usai waktu shalat wajib, dan begitu juga ketika malam menjelang tidur.
Dalam mengamalkan bacaan Shalawat itu,
Habib Jamal merasakan ketenangan bathin. Pikiran yang semula ruwet
menjadi terang. Dan karena Shalawat ini sudah dinyatakan Habib Umar
sebagai amalan yang bisa dilaksanakan semua orang, ia sudah memberikan
ijazah ammah, setiap orang boleh mengamalkannya. Selain itu fadhilah
lain membaca Shalawat ini adalah selalu mempunyai ikatan dan hubungan
erat dengan Rasulullah SAW.
Adapun bacaan Shalawat Nur sebagai berikut:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ وسلم ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﺭﻙ ﺍﻟﺴﺎﺭﻱ ﻭﻣﺪﺩﻙ ﺍﻟﺠﺎﺭﻱ
ﻭﺍﺟﻤﻌﻨﻲ ﺑﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺃﻃﻮﺍﺭﻱ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺎ ﻧﻮﺭ
“Allahumma sholli wa sallim ‘ala
Sayyidina Muhammad nuuri-kas saarii wa madaadikal jaarii wajma’nii bihi
fi kulli athwaarii wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam ya nuur”
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak
kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman,
serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
Kalam Kalam Hikmah Habib Jamal bin Thoha Baagil